saudariku melawannya dengan doa...
medan pertempuran bukan di dapur....dan lawan bertempur bukan wanita dan balita...
Sama seperti tahun -tahun sebelumnya ,bila tiba hari raya selama kami tinggal di negeri Sakura.
Terasa sekali perbedaan bila ada perayaan hari besar agama Islam, buat saya dan suami..tapi mungkin anak-anak belum begitu merasakan bedanya. Idul Adha 1429 H tahun ini, jatuh di bulan Desember.. kesibukan menyambut hari raya tak terasa sama sekali..apabila kita sendiri tak menyengaja menyambutnya....mengucapkan takbir dari mulut kita...dan membaca berita di media internet.
malam itu suami dan saya disela-sela pekerjaan rumah berusaha bertakbir seraya mengajak anak-anak..walopun kesannya mereka cuek...kami yakin anak-anak merekam dalam pendengaran dan ingatannya akan kalimat takbir yang kami ucapkan.
Sementara di bulan Desember ,Jepang negara yang katanya menganut agama Shinto dan Budha tapi lebih banyak yang tidak beragama..hingar bingar menyabut x-mas ada di mana-mana...walaupun setahu saya belum tentu yang merayakan x -mas itu kristiani. Di iklan TV di supermarket, pertokoan, mall bahkan di sekolah TK dimana salman belajar, masuk bulan Desember tema prakaryanya adalah x-mas.
Dan di skedul bulan Desember ini ada x-mas party. Beberapa kali Salman pulang sekolah membawa hasil prakarya menggunting, mewarna atau menempel dengan gambar dan bentuk pohon cemara, kakek tua berjenggot putih,dan hiasan dinding berbentuk lingkaran.. dan sambil berkata pada ummi " ummi kore wa iranai..*." dengan kata-kata pelan....oh anak ku sayang..mungkin dalam hatimu berkata" ummi ,aku terpaksa membuat pernak pernik ini..yang sebetulnya aku tak memerlukannya..tapi bu guru dan teman -teman semua melakukannya" Memang sengaja kami tidak meliburkan anak-anak selama bulan Desember , bukan karena kami tidak khawatir pesan-pesan keislaman luntur..tapi biarlah anak-anak mengetahui dan belajar akan keberagaman manusia . Dan harapan kami anak-anak bisa perpegang teguh pada tali agama Islam dimanapun mereka berada.
Sampai satu hari saya mendengar Salman berseru: "ummi ashita wa ne kurisumasu paati ga aru yo..."** belum sempat ummi menjawab, mas Said yang disebelah Salman berkata" Salman.. kurisumasu paati yarimasen ,sensei ni yutte..***." gakkou iku ,demo ... xmas party yattenai.."**** Said menguatkan usulannya. Mendengar seruan Said tadi dalam hati berharap dan berdoa "ya Allah mudahkanlah kami mengenalkan agamaMu kepada anak-anak kami "
Dihari perayaan itu biasanya anak-anak kami liburkan , salah satu ikhtiyar kami agar anak-anak tidak latah dan bisa secara bertahap memahami makna" Lakum diinukum waliyadin" yang tertulis dalam kitab Al Qur'an.
Ya ..memang kami meyakinkan anak-anak bahwa kami ber agama Islam, hari raya kita Idul Adha dan Idul Fitri, x-mas party adalah milik agama lain. Tidak selayaknya kita ikut-ikutan karena buat kita ada Lebaran dan Hari Raya Kurban.
Pernah Salman bertanya pada saya" ummi..shiranai no...??***** kurisumasu paarti wa ne imiga puresentou yo".******..saya tersenyum mendengar salman bilang begitu..memang di mana mana desember adalah bulan iklan hadiah...semua iklan menawarkan belilah "ini" untuk hadiah...dan ditoko,supermarket sudah dipajang berbagai macam bungkusan hadiah nan lucu-lucu. Alhamdulillah anak-anak tidak pernah merengek menangis meminta untuk dibelikan, walaupun mereka belum tahu itu adalah strategi pemasaran untuk meningkatkan penjualan :D, sama bila ada momen halloween atau valentine. Mungkin ibu guru salman dan kebanyakan orang jepang ikut latah..karena memang agama yang mereka anut tidak mengajarkannya.
Mendengar pertanyaan Salman itu, ummi cuma berusaha menjelaskan bukankah ummi dan abi juga selalu memberi hadiah..buat Said, Salman dan Sumayya di hari raya Islam, bahkan bukan cuma hari raya saja...hadiah berupa ciuman ketika selesai gosok gigi atau selesai belajar juga sebuah hadiah, hadiah murah dan bisa melembutkan hati..menghadapi hari-hari bersama buah hati.:D
" Tahaddu tahabbu" salinglah memberi hadiah niscaya kalian saling menyayangi ..itu pesan nabi SAW.
Dan pagi hari10 dzulhijjah 1429 H, abi tetap berangkat meeting di kampus pukul 8 pagi....Said dan Salman pun kami liburkan, minta izin tidak berangkat sekolah.... jam 8.30 ummi dan trio S bersiap berangkat ke masjid An-nuur masjid yang baru" setengah selesai" dibangun di dekat universitas Niigata kampus Ikarashi atas prakarsa para brother Egypt dan Pakistan yang lebih dulu tinggal di Niigata.
Dengan bersepeda menembus dingin, Alhamdulillah Mentari bersinar cerah..kami berangkat dari rumah dan abi berangkat dari sekolah, bertemu di masjid untuk sholat berjamaah, bersama - sama saudara seiman merayakan Idul Adha 1429 H dengan sederhana.Ini hari raya-mu anakku.
=================================================
*ummi..aku tidak memerlukan ini..
**ummi ..besuk ada x-mas party.
*** salman bilang ke bu guru ,,gak ikut x-mas party
**** berangkat sekolah ..tapi gak ikutan partynya
*****ummi gak tahu ya?
****** x-mas party itu berarti hadiah loh.
masjid An Nuur Niigata masih menerima bantuan dana untuk melanjutkan tahap ke 2 pembangunannya...ayook siapa mau beramal jariyah... bisa lewat saya/suami saya
Biasa setelah said pulang sekolah ummi menanyakan sholat dhuhur tadi di sekolah apakah sudah dilaksanakan.
Karena sudah saatnya said menjaga sholat 5 waktu, Alhamdulillah pihak sekolah memberikan ruangan untuk said dan beberapa murid muslim menjalankan sholat( sepertinya baru dr indonesia saja yg kelas 4 sd 6 di SD ikarashi dr komunitas muslim indonesia bangladesh dan egypt)
terus terang tidak mudah mendidik anak sendirian dilingkungan jepang seperti ini. daya tarik magnet yg bernama lingkungan itu sangat kuat. Siapa lagi pemeran utama dalam mewarnai dan mendidik anak-anak..kalo bukan dari kami orang tuanya... meluangkan waktu untuk berbicara, mendengarkan dan bersama-sama..... semoga Allah selalu memberikan kekuatan untuk selalu istiqomah kpd kami dan para orang tua muslim di negeri sakura ini. amin.
untuk menjaga agar said selalu ingat akan sholat 5 waktunya dan jujur ummi ajak berbicara mengenai malaikat Raqib dan 'Athid yang selalu menyertai manusia kemanapun dimanapun dan apapun yg dikerjakan.
ummi:di bahu kanan ada malaikat Raqib dan bahu kiri ada malaikat 'Athid yang mencatat amal baik dan buruk...jadi Allah tdk bisa dibohongi...malaikat membantu Allah mengawasi makhlukNya
said: heee...!!! selalu ikut kemanapun?mienai...sawaranai...( gak kliatan..gak bisa dipegang)
ummi: iya kecuali said sedang toire/mandi
said: tenshi tte..nani kara tsukuru no?? ( malaikat terbuat dr apa??)
ummi: dr cahaya (hikaru)
said: hikaru wa mieru dayo mi...(cahaya itu kan kelihatan mi)
ummi: yah mungkin ini cahayanya lembuuuuttt banget ,mata manusia gak bisa melihat atau cepat sekali berkilat..jadi mata biasa tdk melihatnya.
coba angin ,udara..said juga gak lihatkan...
said: tapi bisa dirasakan.....
ummi: karena manusia dan malaikat berbeda dari apa diciptakan , makanya manusia tidak bisa meraba.
buktinya kalo malaikat itu ada,adalah al qur'an itu.... malaikat jibril membisikkan perkataan dari Allah kepada nabi muhammad... dan ditulis oleh para sahabat dalam buku/kitab agar mudah dipelajari
Allah maha bisa..apapun bisa.... manusia bisa membuat kamera dipasang dimana-mana dan merekam kejadian...tentu Allah juga bisa dong merekam dengan "kamera" ciptaan Allah.....makanya Allah tahu kalo manusia berbohong, belum sholat tapi bilang sudah sholat ^_^
said: ah.... sokka.(sambil senyam senyum masuk ke kamar tidur )
==============================================================
catatan dr ngobrol-ngobrol menjelang tidur
tujuh tahun ananda, ummi dan abi harus mengajak kalian
lima kali sehari sholat tak dilupakan
bekalan diri mengenal Tuhan
Rabb sekalian alam
sepuluh tahun ananda,ummi dan abi boleh memukulmu
bila menolak melaksanakan sholat lima waktu
Allah Subhanahu WaTa'ala tak mengharap apapun darimu
ingatlah sholat adalah kebutuhanmu
ruku' dan sujudlah ananda hanya kepada Allah semata
dirikanlah sholat ananda ,dalam irama kehidupanmu yang penuh warna
bukan hanya ritual dan gerak badanmu saja
tapi kenakan juga perhiasan sholat itu
diuntaian tutur kata dan rangkaian perbuatanmu
=================================================================tuk anak-anakku sayang,said, salman, sumayya
ummi dan abi pun masih belajar terus "mendirikan" sholat
foto: mas said latihan jadi imam sholat
selamat datang Ramadhan 1429 H
kepada sahabat multiply yang beragama Islam, kami mengucapkan selamat beribadah di bulan Ramadhan..
mohon maaf lahir dan batin,
dari kami keluarga Edy Marwanta di Niigata Japan
edy,rahma,said,salman dan sumayya
| Start: | Aug 7, '08 9:00p |
| End: | Aug 7, '08 11:00p |
| Location: | japan |
Ketika undangan disampaikan,sedikit pesimis bisa ikut pergi ke masjid Niigata dalam acara jumpa imam Masjidil Haram yang sedang melawat ke Jepang, Setelah meresmikan masjid di Gifu,mengadakan kunjungan dakwah ke berbagai masjid di jepang ini. Acara ini diprakarsai oleh Komunitas Pakistan yang tinggal di Niigata.
Karena letak masjid yang tidak dekat,dan tidak mudah dijangkau dengan angkutan umum selain taxi,maka pesimis pun bertambah ,transportasi harus dengan kendaraan pribadi. Alhamdulillah panitia menyediakan mobil untuk mengangkut ibu2dan anak-anak Indonesia. Jazakumullahukhairan katsiran.
Akhirnya sampai juga ke masjid Niigata dan berjamaah sholat magrib dan isya disana serasa sholat di MasjidilHaram karena imamnya imam Masjidil haram ^_^ murottalnya seperti yang di you tube itu^_^ (kalo gak salah di rekaat ke-2 pak imam memilih surah Al-Furqaan 71 sd 77 rekaat pertama aku lupa ^_^)
Juga sedikit ceramah tentang "innamal mu'minuna ikhwah" sesungguhnya sesama orang beriman itu bersaudara " juga ttg syukur nikmat sebagai manusia yg diberikan akal, hati dan jasad agar digunakan secara seimbang dalm beribadah kpd allah SWT.(sebenarnya banyak point yg bisa dicatat, cuma krn pakai arabia go dan sambil momong anak-anak, juga saingan sama celoteh anak2 banyak jadi sedikit yg bisa diingat *alesan :p *
Semoga suatu saat nanti kami pun berjamaah sholat di MasjidilHaram Makkah al Mukaramah
amin.
foto: karangan bunga panitia dan masjid niigata yang masih berbentuk rumah darurat.
| Rating: | ★★★ |
| Category: | Other |
| Rating: | ★★★ |
| Category: | Other |
Musume adalah bahasa jepangnya anak kandung perempuan. "Sumayya wa Edy san no musume desu" Sumayya adalah anak perempuan nya pak Edy" begitu kira-kira maksudnya.Bicara tentang anak laki dan perempuan , enakan mana laki dan perempuan? pilih mana laki dan perempuan?.
Bagi orang tua yang sudah punya dan pernah mengasuh anak laki dan perempuan,mungkin ada sedikt banyak melihat perbedaan. Yang paling jelas dalam memberi perlengkapan seperti pakaian dan permainan.
Bukan mau membahas gender, juga bukan tidak bersyukur karena saya juga terlahir perempuan, bersyukur sangat dengan yang ada dengan karunia Nya, dan terlahir sebagai perempuan. Bukan kah agama Islam sangat memuliakan perempuan. Seorang Umar bin Khatab ra. pun menyesal mengubur hidup-hidup anak perempuannya ketika masih dalam gelap jahiliyahnya karena malu. Dalam Alqur'an pun ada surat yang bertajuk An -Nisaa' yang berarti wanita, perempuan.
Jelas sekali perempuan dan laki laki itu berbeda bila kita lihat dari bentuk fisik dan fungsi penciptaannya. Tapi tetap sama di sisi Allah itu adalah hambaNya yang paling bertaqwa.
Dalam satu hadits ada yang membahas tentang mendidik 2 anak perempuan hingga baligh menjadi wanita shalihah, maka bagi kedua orang tuanya nanti akan disediakan tameng agar tak tersentuh api neraka. Kenapa 2 anak perempuan, kenapa tidak 2 anak laki-laki? percaya pasti ada hikmah di baliknya.
Seorang teman muslimah jepang , yang telah dikaruniai 2 anak lelaki dan lahirlah anak ke-3 laki laki lagi, ketika ditanya masih ingin anak perempuan? jawabnya "belum siap punya anak perempuan di jepang" " berat" katanya. Kalau dipikir ,kenapa muslimah jepang itu merasa belum siap punya anak perempuan, di negaranya dimana benih benih keislaman baru saja ditanam.Dia dan suaminya sebagai yang menyemai benih pohon Islam di negeri bunga sakura.
Bukan berarti mereka tidak mau punya anak perempuan, tapi jika boleh memilih jangan sekarang mendapat karunia "musume". Tantangan medan dakwah di jepang lebih berat dengan menyandang predikat "muslimah",mungkin ini yang terbayangkan dalam diri muslimah jepang tadi. Tapi.. balasan dari Nya itu ..Subhanallah...orang tua tak akan terjilat api neraka bila 2 putrinya menjadi wanita shalihah.
Berbahagialah orang tua yang punya anak perempuan shalihah
***************************************************************************************************************
“Ada seorang wanita yang masuk menemuiku dengan membawa dua orang anak perempuan untuk meminta-minta, tetapi aku tidak mempunyai apa-apa kecuali hanya satu butir kurma. Lalu aku memberikan kurma itu kepadanya. Selanjutnya, wanita itu membagi satu butir kurma itu untuk kedua anak perempuannya sedang dia sendiri tidak ikut memakannya. Lantas, wanita itu bangkit dan keluar. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada kami, maka aku ceritakan peristiwa itu kepada beliau, maka beliau pun berkata, ‘Barangsiapa yang diuji dengan anak-anak perempuan, lalu dia mengasuhnya dengan baik, maka anak-anak perempuan itu akan menjadi tirai pemisah dari api Neraka." [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
*************************************************************************************************************
foto: sumayya dan abinya( jadilah wanita shalihah anakku )
Pagi hari tadi,akhirnya aku bisa menuntaskan baca buku novel paling tebel dan bertema cinta yang pertama kali dalam hidupku.Novel AAC yang lagi ngetrend itu.Buku yang tebalnya sekitar 400 halaman itu khatam hampir 2 bulan membacanya dan tidak tiap hari. (hayoo...cepetan mana selesainya dg khatam 30 juz ^_^)
Karena aku tahu, baca novel bukan hobiku dari dulu. Bahkan ketika masih remaja belasan tahun ,yg biasanya pada gandrung dengan majalah anita cemerlang pada masa itu,aku sering cuek bebek...aah itu cuma cerita cinta khayalan ...ngabisin waktu buat baca kayak gitu,lebih baik ikutan ibu pengajian di gedung PGA atau ikut belanja ke pasar buat makanan kecil untuk acara PKK,Ikutan Bantuin nyiapin posyandu, kebetulan bapakku dulu kades sebuah desa di kota Klaten.Atau baca komik petualangan Tintin,Lima sekawan yang seru bak ikut berperan sebagai tokoh ke enam hehehe...paling juga baca cerpen langganan majalah remaja yg diwajibkan di sekolah menengah JawaTengah: Mop ^_^
Gak nyangka juga sih bisa baca AAC sampai tuntas...kenapa...??? aku ingin baca gambaran tentang negerinya nabi Musa dengan sungai nil nya, Juga karena sekarang bertetangga dengan orang Mesir.Yang memang karakternya sedikit ada persamaan dg yang ditulis kang Abik ini. Juga ingin tahu ttg perjuangan ikhwah disana, yg sedang menuntut ilmu. juga tentang keadaan penjara disana. Karena pertama kali yang kubaca tentang Mesir adalah buku "Wanita Ikhwanul Muslimin".Buku hadiah dari kakakku , ketika ku mulai berjilbab kelas 2 SMA di th 1992. Bukan sebuah Novel tapi kisah nyata perjuangan dakwah seorang wanita muslimah di Mesir. Begitu banyak siksaan yg ditimpakan pada tubuh sang Zaenab Al Ghazali ketika di bui(semoga Allah SWT merahmatimu ) . Kemudian mulai sedikit demi sedikit koleksi komik petualangan ilang lenyap berganti buku buku yang lebih bermanfaat.
Tentang peristiwa berjodohnya tokoh fahri dengan Aisya ,sedikit bisa jadi nostalgia masa-masa ta'arufku dengan calon suamiku dulu ^_^. Karena aku sudah berkeluarga punya suami dan anak-anak yang mencintaiku.Aku gak tahu gimana perasaan yg belum nikah ^_^
Sepertinya aku lebih menyukai membaca perjalanan hidup seseorang dari pada novel...tapi memang novel kang Abik ini lain dari yang lain.. semoga banyak penulis yg bisa menulis novel yg bermutu.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
terima kasih tuk mba Rima http://wirasakti1607.multiply.com/ yg minjemin novelnya.
ket. foto:lagi main AAC eeh bukan ..lagi jalan jalan dengan orang2 tercinta..jangan dikira berduaan ya..salman dan sumayya dibawah,dan said yg jadi potografernya ^_^
"Rahma ..aku mau pindah apato" suara sahabat di telepon genggamku.."Kemana? ke Niigata?" sahutku suka cita..siapa tahu bisa tetanggaan lagi seperti dulu. " Bukan...pindah ke Otsuka"...Jawabnya. "Alhamdulillah...dekat mesjid dong!!" gembira ku mendengarnya." Iya cuma lima menit jalan ke Masjid Otsuka"...lima menit jalan ke eki....lima menit jalan ke shyougakko..."
"Tapiii..harga sewanya itu loh...dua kali lipat dari apato yg sekarang kutempati""Dan kamar nya pun lebih sempit"...demi anak ...biar dia bisa setiap hari ke masjid"
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tinggal di dekat masjid, sungguh suatu yang langka bagi muslim merantau di negeri sakura ini. Dimana keberadaan Masjid rumah Allah bisa dihitung dengan jari.
Salah satunya masjid Otsuka,di Tokyo. Masjid ini sudah mulai banyak digunakan untuk aktivitas sosial keagamaan. Dan disana dirintis sekolah islam untuk anak anak taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Belum banyak masjid yang jumlahnya hanya sedikit ini, "welcome" dalam kegiatan sosial keagamaan. ( jadi bagi para sahabat yg tinggal di sekitar kanto/tokyo dan sekitar, sering seringlah ke masjid otsuka ^_^)
Ketika anak-anak sudah semakin besar,mulai bisa "menyerap pelajaran" dari lingkungan sekitar, orang tua pun ikut berdebar debar. Kenapa berdebar...??karena si anakpun mulai belajar dari lingkungan dimana kita tinggal.
Disekolah , anak-anak tidak mendapatkan pelajaran agama Islam. Bisa diartikan hanya dari orang tua anak-anak mengenal Islam. Mungkin bila anak anak masih dalam usia balita lingkungan yang pertama adalah keluarga. Dengan mudah para balita menyerap apa yang dicontohkan kedua ibu bapaknya. Tetapi ketika anak sudah mulai beranjak menginjak usia sekolah, baginya lingkungan ikut -ikutan berperan dalam membentuk tingkah laku dalam perkataan dan perbuatannya.
Bagi para orang tua yang sadar akan pentingnya bi'ah yang baik,pasti akan selalu berusaha menciptakannya, dengan segenap apa yang bisa dilakukannya, agar nilai nilai islam itu tertanam dalam di sanubari anak-anaknya.Bekalan menapaki jalan panjang hidup di dunia menuju akhirat yang abadi.
====================================================================
tuk seorang sahabat:
Semoga pindahan nya lancar ya ...barakah dan betah...
bi'ah= lingkungan
Masih ingat hadits Rasulullah saw. Bahwa anak Adam meninggal dunia segala amalnya telah terputus kecuali 3 perkara amal jariyah,ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh yang selalu mendoakan kedua orang tuanya.
Kadang ada sedikit keciutan hati ketika melihat perkara pertama, aku mau amal dengan apa?? uang gak punya? aku tidak bekerja?sepertinya hanya sedikiiit sekali yang bisa aku perbuat....Tapi ingatlah Allah Maha pemurah. amal itu adalah sebuah karya . Karya yang bermanfaat untuk kemaslahatan orang banyak. Dengan mendidik anak anak dirumah , mengajarinya akhlakul karimah(perbuatan baik), mengajarinya membaca a..ba ta..huruf hijaiyah huruf-huruf dalam Al Quran., mengajarkan sholat,mengajarkan puasa, mengaji dan berbagai macam perbuatan baik lainnya. InsyaAllah anak anak kita pun akan menyebarkan akhlak karimah(perbuatan baik)nya kepada lingkungan dan teman teman. Sebagai ibu adalah madrasah(sekolah ) pertama bagi anak anaknya. Akan tertanam dalam ingatan segala kegiatan pendidikan (baca: kebersamaan )dg ibu dimasa kecil, remaja hingga dewasanya. Bila anak terus menerus mengamal kan apa yg ibu ajarkan dan contohkan insyaAllah itulah amal jariyah.
Perkara kedua, Ilmu yang bermanfaat.Jangan membuat kecil hati kembali, bila mengingat diri tidak bersekolah tinggi. Ilmu bermanfaat bukan hanya milik orang yang bersekolah saja, yang bergelar sarjana, magister, maupun doktor bahkan profesor..yang menghasilkan banyak-banyak buku buku ilmiyah. Kesempatan menyebar ilmu yang bermanfaat juga ada pada kita yang senantiasa dirumah bersama buah hati. Masih ingat masa kecil dulu bagaimana ibu kita mengajarkan kita membersihkan rumah, mengepel lantai..biar bersih. dengan cara mundur kebelakang bukan maju kedepan ,yang nantinya lanti kotor kembali bila kita injak dengan sepatu kita.Bagiamana ibu mengajarkan kita membuat minuman sendiri, menanak nasi dan memasak sayur. Juga rutinitas kita seharian ,mengajarkan berdoa sebelum makan , doa sebelum tidur doa sesudah tidur....sampai mengantarnya menuju" baligh"..bagaimana bersuci( thaharah ) ilmu2 yang bermanfaat untuk membentuknya menjadi insan yang baik.
Perkara ketiga, anak yang sholih yang selalu mendoakan kedua orang tuanya. Dalam hadits yang dimaksud anak adalah anak kandung , bukan anak susuan ataupun anak asuh.Kita sebagai orang tua yang telah menjadi bapak dan ibu dari anak-anak. Semoga kita selalu ingat bahwa anak kita adalah amanah dari Allah, untuk generasi...semoga anak anak kita tumbuh dengan akhlaq ul karimah, jadi manusia yg bertaqwa dan berilmu. Tentu mereka tumbuh bukan hanya dengan doa doa kita sehari hari tapi juga dengan amal amal kita sehari hari dalam membentuk karakter mereka . anak sholih adalah dambaan semua orang tua.
Tapi bila seseorang mengambil anak asuh untuk dibina, dididik, diberikan kasih sayang, dibiayai pendidikannya, hingga ia tumbuh menjadi dewasa menjadi orang shalih, tentu jasa baik orang tua asuhnya menjadikan aliran pahala selama anak yang dulu diasuhnya menjaga kesholihannya,karena berkat didikan orangtua yang mengasuhnya. Sehingga ia mejadi amal jariyah dan ilmu yang bermanfaat bagi orang tua asuhnya. Sehingga bisa jadi anak asuh ini kemudian selalu mendoakan orang tua asuhnya.Dan masalah doa ini sampai atau tidak ,itu adalah hak prerogatif Allah swt.
wallahua'lam
sedikit ringkasan kajian muslimah meeting, niigata dari pendahuluan kitab tarbiyatul aulad fil fan juga dari http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/6/cn/32220
Agar Pernikahan Membawa Berkah
Oleh: Tim dakwatuna.com
Di saat seseorang melaksanakan aqad pernikahan, maka ia akan mendapatkan banyak ucapan do’a dari para undangan dengan do’a keberkahan sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW; “Semoga Allah memberkahimu, dan menetapkan keberkahan atasmu, dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.” Do’a ini sarat dengan makna yang mendalam, bahwa pernikahan seharusnya akan mendatangkan banyak keberkahan bagi pelakunya. Namun kenyataannya, kita mendapati banyak fenomena yang menunjukkan tidak adanya keberkahan hidup berumah tangga setelah pernikahan, baik di kalangan masyarakat umum maupun di kalangan keluarga du’at (kader dakwah). Wujud ketidakberkahan dalam pernikahan itu bisa dilihat dari berbagai segi, baik yang bersifat materil ataupun non materil.
Munculnya berbagai konflik dalam keluarga tidak jarang berawal dari permasalahan ekonomi. Boleh jadi ekonomi keluarga yang selalu dirasakan kurang kemudian menyebabkan menurunnya semangat beramal/beribadah. Sebaliknya mungkin juga secara materi sesungguhnya sangat mencukupi, akan tetapi melimpahnya harta dan kemewahan tidak membawa kebahagiaan dalam pernikahannya.
Seringkali kita juga menemui kenyataan bahwa seseorang tidak pernah berkembang kapasitasnya walau pun sudah menikah. Padahal seharusnya orang yang sudah menikah kepribadiannya makin sempurna; dari sisi wawasan dan pemahaman makin luas dan mendalam, dari segi fisik makin sehat dan kuat, secara emosi makin matang dan dewasa, trampil dalam berusaha, bersungguh-sungguh dalam bekerja, dan teratur dalam aktifitas kehidupannya sehingga dirasakan manfaat keberadaannya bagi keluarga dan masyarakat di sekitarnya.
Realitas lain juga menunjukkan adanya ketidakharmonisan dalam kehidupan keluarga, sering muncul konflik suami isteri yang berujung dengan perceraian. Juga muncul anak-anak yang terlantar (broken home) tanpa arahan sehingga terperangkap dalam pergaulan bebas dan narkoba. Semua itu menunjukkan tidak adanya keberkahan dalam kehidupan berumah tangga.
Memperhatikan fenomena kegagalan dalam menempuh kehidupan rumah tangga sebagaimana tersebut di atas, sepatutnya kita melakukan introspeksi (muhasabah) terhadap diri kita, apakah kita masih konsisten (istiqomah) dalam memegang teguh rambu-rambu berikut agar tetap mendapatkan keberkahan dalam meniti hidup berumah tangga ?
1. Meluruskan niat/motivasi (Ishlahun Niyat)
Motivasi menikah bukanlah semata untuk memuaskan kebutuhan biologis/fisik. Menikah merupakan salah satu tanda kebesaran Allah SWT sebagaimana diungkap dalam Alqur’an (QS. Ar Rum:21), sehingga bernilai sakral dan signifikan. Menikah juga merupakan perintah-Nya (QS.An-Nur:32) yang berarti suatu aktifitas yang bernilai ibadah dan merupakan Sunnah Rasul dalam kehidupan sebagaimana ditegaskan dalam salah satu hadits : “Barangsiapa yang dimudahkan baginya untuk menikah, lalu ia tidak menikah maka tidaklah ia termasuk golonganku” (HR.At-Thabrani dan Al-Baihaqi). Oleh karena nikah merupakan sunnah Rasul, maka selayaknya proses menuju pernikahan, tata cara (prosesi) pernikahan dan bahkan kehidupan pasca pernikahan harus mencontoh Rasul. Misalnya saat hendak menentukan pasangan hidup hendaknya lebih mengutamakan kriteria ad Dien (agama/akhlaq) sebelum hal-hal lainnya (kecantikan/ketampanan, keturunan, dan harta); dalam prosesi pernikahan (walimatul ‘urusy) hendaknya juga dihindari hal-hal yang berlebihan (mubadzir), tradisi yang menyimpang (khurafat) dan kondisi bercampur baur (ikhtilath). Kemudian dalam kehidupan berumah tangga pasca pernikahan hendaknya berupaya membiasakan diri dengan adab dan akhlaq seperti yang dicontohkan Rasulullah saw.
Menikah merupakan upaya menjaga kehormatan dan kesucian diri, artinya seorang yang telah menikah semestinya lebih terjaga dari perangkap zina dan mampu mengendalikan syahwatnya. Allah SWT akan memberikan pertolong-an kepada mereka yang mengambil langkah ini; ” Tiga golongan yang wajib Aku (Allah) menolongnya, salah satunya adalah orang yang menikah karena ingin menjaga kesucian dirinya.” (HR. Tarmidzi)
Menikah juga merupakan tangga kedua setelah pembentukan pribadi muslim (syahsiyah islamiyah) dalam tahapan amal dakwah, artinya menjadikan keluarga sebagai ladang beramal dalam rangka membentuk keluarga muslim teladan (usrah islami) yang diwarnai akhlak Islam dalam segala aktifitas dan interaksi seluruh anggota keluarga, sehingga mampu menjadi rahmatan lil ‘alamin bagi masyarakat sekitarnya. Dengan adanya keluarga-keluarga muslim pembawa rahmat diharapkan dapat terwujud komunitas dan lingkungan masyarakat yang sejahtera.
2. Sikap saling terbuka (Mushorohah)
Secara fisik suami isteri telah dihalalkan oleh Allah SWT untuk saling terbuka saat jima’ (bersenggama), padahal sebelum menikah hal itu adalah sesuatu yang diharamkan. Maka hakikatnya keterbukaan itu pun harus diwujudkan dalam interaksi kejiwaan (syu’ur), pemikiran (fikrah), dan sikap (mauqif) serta tingkah laku (suluk), sehingga masing-masing dapat secara utuh mengenal hakikat kepribadian suami/isteri-nya dan dapat memupuk sikap saling percaya (tsiqoh) di antara keduanya.
Hal itu dapat dicapai bila suami/isteri saling terbuka dalam segala hal menyangkut perasaan dan keinginan, ide dan pendapat, serta sifat dan kepribadian. Jangan sampai terjadi seorang suami/isteri memendam perasaan tidak enak kepada pasangannya karena prasangka buruk, atau karena kelemahan/kesalahan yang ada pada suami/isteri. Jika hal yang
demikian terjadi hal yang demikian, hendaknya suami/isteri segera introspeksi (bermuhasabah) dan mengklarifikasi penyebab masalah atas dasar cinta dan kasih sayang, selanjutnya mencari solusi bersama untuk penyelesaiannya. Namun apabila perasaan tidak enak itu dibiarkan maka dapat menyebabkan interaksi suami/isteri menjadi tidak sehat dan potensial menjadi sumber konflik berkepanjangan.
3. Sikap toleran (Tasamuh)
Dua insan yang berbeda latar belakang sosial, budaya, pendidikan, dan pengalaman hidup bersatu dalam pernikahan, tentunya akan menimbulkan terjadinya perbedaan-perbedaan dalam cara berfikir, memandang suatu permasalahan, cara bersikap/bertindak, juga selera (makanan, pakaian, dsb). Potensi perbedaan tersebut apabila tidak disikapi dengan sikap toleran (tasamuh) dapat menjadi sumber konflik/perdebatan. Oleh karena itu masing-masing suami/isteri harus mengenali dan menyadari kelemahan
dan kelebihan pasangannya, kemudian berusaha untuk memperbaiki kelemahan yang ada dan memupuk kelebihannya. Layaknya sebagai pakaian (seperti yang Allah sebutkan dalam QS. Albaqarah:187), maka suami/isteri harus mampu mem-percantik penampilan, artinya berusaha memupuk kebaikan yang ada (capacity building); dan menutup aurat artinya berupaya meminimalisir kelemahan/kekurangan yang ada.
Prinsip “hunna libasullakum wa antum libasullahun (QS. 2:187) antara suami dan isteri harus selalu dipegang, karena pada hakikatnya suami/isteri telah menjadi satu kesatuan yang tidak boleh dipandang secara terpisah. Kebaikan apapun yang ada pada suami merupakan kebaikan bagi isteri, begitu sebaliknya; dan kekurangan/ kelemahan apapun yang ada pada suami merupakan kekurangan/kelemahan bagi isteri, begitu sebaliknya; sehingga muncul rasa tanggung jawab bersama untuk memupuk kebaikan yang ada dan memperbaiki kelemahan yang ada.
Sikap toleran juga menuntut adanya sikap mema’afkan, yang meliputi 3 (tiga) tingkatan, yaitu: (1) Al ‘Afwu yaitu mema’afkan orang jika memang diminta, (2) As-Shofhu yaitu mema’afkan orang lain walaupun tidak diminta, dan (3) Al-Maghfirah yaitu memintakan ampun pada Allah untuk orang lain. Dalam kehidupan rumah tangga, seringkali sikap ini belum menjadi kebiasaan yang melekat, sehingga kesalahan-kesalahan kecil dari pasangan suami/isteri kadangkala menjadi awal konflik yang berlarut-larut. Tentu saja “mema’afkan” bukan berarti “membiarkan” kesalahan terus terjadi, tetapi mema’afkan berarti berusaha untuk memberikan perbaikan dan peningkatan.
4. Komunikasi (Musyawarah)
Tersumbatnya saluran komunikasi suami-isteri atau orang tua-anak dalam kehidupan rumah tangga akan menjadi awal kehidupan rumah tangga yang tidak harmonis. Komunikasi sangat penting, disamping akan meningkatkan jalinan cinta kasih juga menghindari terjadinya kesalahfahaman.
Kesibukan masing-masing jangan sampai membuat komunikasi suami-isteri atau orang tua-anak menjadi terputus. Banyak saat/kesempatan yang bisa dimanfaatkan, sehingga waktu pertemuan yang sedikit bisa memberikan kesan yang baik dan mendalam yaitu dengan cara memberikan perhatian (empati), kesediaan untuk mendengar, dan memberikan respon berupa jawaban atau alternatif solusi. Misalnya saat bersama setelah menunaikan shalat berjama’ah, saat bersama belajar, saat bersama makan malam, saat
bersama liburan (rihlah), dan saat-saat lain dalam interaksi keseharian, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan memanfaatkan sarana telekomunikasi berupa surat, telephone, email, dsb.
Alqur’an dengan indah menggambarkan bagaimana proses komunikasi itu berlangsung dalam keluarga Ibrahim As sebagaimana dikisahkan dalam QS.As-Shaaffaat:102, yaitu : “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata; Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu, Ia menjawab; Hai Bapakku, kerjakanlah apayang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk
orang-orang yang sabar”.
Ibrah yang dapat diambil dalam kisah tersebut adalah adanya komunikasi yang timbal balik antara orang tua-anak, Ibrahim mengutarakan dengan bahasa dialog yaitu meminta pendapat pada Ismail bukan menetapkan keputusan, adanya keyakinan kuat atas kekuasaan Allah, adanya sikap tunduk/patuh atas perintah Allah, dan adanya sikap pasrah dan tawakkal kepada Allah; sehingga perintah yang berat dan tidak logis tersebut dapat terlaksana dengan kehendak Allah yang menggantikan Ismail dengan seekor kibas yang sehat dan besar.
5. Sabar dan Syukur
Allah SWT mengingatkan kita dalam Alqur’an surat At Taghabun ayat 14: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Dan jika kamu mema’afkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Peringatan Allah tersebut nyata dalam kehidupan rumah tangga dimana sikap dan tindak tanduk suami/istri dan anak-anak kadangkala menunjukkan sikap seperti seorang musuh, misalnya dalam bentuk menghalangi-halangi langkah dakwah walaupun tidak secara langsung, tuntutan uang belanja yang nilainya di luar kemampuan, menuntut perhatian dan waktu yang lebih, prasangka buruk terhadap suami/isteri, tidak merasa puas dengan pelayanan/nafkah yang diberikan isteri/suami, anak-anak yang aktif dan
senang membuat keributan, permintaan anak yang berlebihan, pendidikan dan pergaulan anak, dan sebagainya. Jika hal-hal tersebut tidak dihadapi dengan kesabaran dan keteguhan hati, bukan tidak mungkin akan membawa pada jurang kehancuran rumah tangga.
Dengan kesadaran awal bahwa isteri dan anak-anak dapat berpeluang menjadi musuh, maka sepatutnya kita berbekal diri dengan kesabaran. Merupakan bagian dari kesabaran adalah keridhaan kita menerima kelemahan/kekurangan pasangan suami/isteri yang memang diluar kesanggupannya. Penerimaan terhadap suami/isteri harus penuh sebagai
satu “paket”, dia dengan segala hal yang melekat pada dirinya, adalah dia yang harus kita terima secara utuh, begitupun penerimaan kita kepada anak-anak dengan segala potensi dan kecenderungannya. Ibaratnya kesabaran dalam kehidupan rumah tangga merupakan hal yang fundamental (asasi) untuk mencapai keberkahan, sebagaimana ungkapan bijak berikut:”Pernikahan adalah Fakultas Kesabaran dari Universitas Kehidupan”. Mereka yang lulus dari Fakultas Kesabaran akan meraih banyak keberkahan.
Syukur juga merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dalam kehidupan berumah tangga. Rasulullah mensinyalir bahwa banyak di antara penghuni neraka adalah kaum wanita, disebabkan mereka tidak bersyukur kepada suaminya.
Mensyukuri rezeki yang diberikan Allah lewat jerih payah suami seberapapun besarnya dan bersyukur atas keadaan suami tanpa perlu membanding-bandingkan dengan suami orang lain, adalah modal mahal dalam meraih keberkahan; begitupun syukur terhadap keberadaan anak-anak dengan segala potensi dan kecenderungannya, adalah modal masa depan yang harus dipersiapkan.
Dalam keluarga harus dihidupkan semangat “memberi” kebaikan, bukan semangat “menuntut” kebaikan, sehingga akan terjadi surplus kebaikan. Inilah wujud tambahnya kenikmatan dari Allah, sebagaimana firmannya: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih (QS. Ibrahim:7).
Mensyukuri kehadiran keturunan sebagai karunia Allah, harus diwujudkan dalam bentuk mendidik mereka dengan pendidikan Rabbani sehingga menjadi keturunan yang menyejukkan hati. Keturunan yang mampu mengemban misi risalah dien ini untuk masa mendatang, maka jangan pernah bosan untuk selalu memanjatkan do’a:
Ya Rabb kami karuniakanlah kami isteri dan keturunan yang sedap dipandang mata, dan jadikanlah kami pemimpin orang yang bertaqwa.
Ya Rabb kami karuniakanlah kami anak-anak yang sholeh.
Ya Rabb kami karuniakanlah kami dari sisi Engkau keturunan yang baik.
Ya Rabb kami karuniakanlah kami dari sisi Engkau keturunan yang Engkau Ridha-i.
Ya Rabb kami jadikanlah kami dan keturunan kami orang yang mendirikan shalat.
Do’a diatas adalah ungkapan harapan para Nabi dan Rasul tentang sifat-sifat (muwashshofat) ketuturunan (dzurriyaat) yang diinginkan, sebagaimana diabadikan Allah dalam Alqur’an (QS. Al-Furqon:74; QS. Ash-Shaafaat:100 ; QS.Al-Imran:38; QS. Maryam: 5-6; dan QS. Ibrahim:40).
Pada intinya keturun-an yang diharapkan adalah keturunan yang sedap dipandang mata (Qurrota a’yun), yaitu keturunan yang memiliki sifat penciptaan jasad yang sempurna (thoyyiba), ruhaniyah yang baik (sholih), diridhai Allah karena misi risalah dien yang diperjuangkannya (wali radhi), dan senantiasa dekat dan bersama Allah (muqiimash-sholat).
Demikianlah hendaknya harapan kita terhadap anak, agar mereka memiliki muwashofaat tersebut, disamping upaya (ikhtiar) kita memilihkan guru/sekolah yang baik, lingkungan yang sehat, makanan yang halal dan baik (thoyyib), fasilitas yang memadai, keteladanan dalam keseharian, dsb; hendaknya kita selalu memanjatkan do’a tersebut.
6. Sikap yang santun dan bijak (Mu’asyarah bil Ma’ruf)
Merawat cinta kasih dalam keluarga ibaratnya seperti merawat tanaman, maka pernikahan dan cinta kasih harus juga dirawat agar tumbuh subur dan indah, diantaranya dengan mu’asyarah bil ma’ruf. Rasulullah saw menyatakan bahwa : “Sebaik-baik orang diantara kamu adalah orang yang paling baik terhadap isterinya, dan aku (Rasulullah) adalah orang yang paling baik terhadap isteriku.” (HR.Thabrani & Tirmidzi)
Sikap yang santun dan bijak dari seluruh anggota keluarga dalam interaksi kehidupan berumah tangga akan menciptakan suasana yang nyaman dan indah. Suasana yang demikian sangat penting untuk perkembangan kejiwaan (maknawiyah) anak-anak dan pengkondisian suasana untuk betah tinggal di rumah.
Ungkapan yang menyatakan “Baiti Jannati” (Rumahku Syurgaku) bukan semata dapat diwujudkan dengan lengkapnya fasilitas dan luasnya rumah tinggal, akan tetapi lebih disebabkan oleh suasana interaktif antara suami-isteri dan orang tua-anak yang penuh santun dan bijaksana, sehingga tercipta kondisi yang penuh keakraban, kedamain, dan cinta kasih.
Sikap yang santun dan bijak merupakan cermin dari kondisi ruhiyah yang mapan. Ketika kondisi ruhiyah seseorang labil maka kecenderungannya ia akan bersikap emosional dan marah-marah, sebab syetan akan sangat mudah mempengaruhinya. Oleh karena itu Rasulullah saw mengingatkan secara berulang-ulang agar jangan marah (Laa tagdlob). Bila muncul amarah karena sebab-sebab pribadi, segeralah menahan diri dengan beristigfar dan mohon perlindungan Allah (ta’awudz billah), bila masih merasa marah hendaknya berwudlu dan mendirikan shalat. Namun bila muncul marah karena sebab orang lain, berusahalah tetap menahan diri dan berilah ma’af, karena Allah menyukai orang yang suka mema’afkan. Ingatlah, bila karena sesuatu hal kita telanjur marah kepada anak/isteri/suami, segeralah minta ma’af dan berbuat baiklah sehingga kesan (atsar) buruk dari marah
bisa hilang. Sesungguhnya dampak dari kemarahan sangat tidak baik bagi jiwa, baik orang yang marah maupun bagi orang yang dimarahi.
7. Kuatnya hubungan dengan Allah (Quwwatu shilah billah)
Hubungan yang kuat dengan Allah dapat menghasilkan keteguhan hati (kemapanan ruhiyah), sebagaimana Allah tegaskan dalam QS. Ar-Ra’du:28. “Ketahuilah dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang”. Keberhasilan dalam meniti kehidupan rumah tangga sangat dipengaruhi oleh keteguhan hati/ketenangan jiwa, yang bergantung hanya kepada Allah saja (ta’alluq billah). Tanpa adanya kedekatan hubungan dengan Allah, mustahil seseorang dapat mewujudkan tuntutan-tuntutan besar dalam kehidupan rumah tangga. Rasulullah saw sendiri selalu memanjatkan do’a agar mendapatkan keteguhan hati: “Yaa muqollibal quluub tsabbit qolbiy ‘alaa diinika wa’ala thoo’atika” (wahai yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku untuk tetap konsisten dalam dien-Mu dan dalam menta’ati-Mu).
Keteguhan hati dapat diwujudkan dengan pendekatan diri kepada Allah (taqarrub ila Allah), sehingga ia merasakan kebersamaan Allah dalam segala aktifitasnya (ma’iyatullah) dan selalu merasa diawasi Allah dalam segenap tindakannya (muraqobatullah). Perasaan tersebut harus dilatih dan ditumbuhkan dalam lingkungan keluarga, melalui pembiasaan keluarga untuk melaksanakan ibadah nafilah secara bertahap dan dimutaba’ah bersama, seperti : tilawah, shalat tahajjud, shaum, infaq, do’a, ma’tsurat, dll. Pembiasaan dalam aktifitas tersebut dapat menjadi sarana menjalin keakraban dan persaudaraan (ukhuwah) seluruh anggota keluarga, dan yang penting dapat menjadi sarana mencapai taqwa dimana Allah swt menjamin orang-orang yang bertaqwa, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ath-Thalaaq: 2-3.
“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagi-nya jalan keluar (solusi) dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupi (keperluan) nya.”
Wujud indahnya keberkahan keluarga
Keberkahan dari Allah akan muncul dalam bentuk kebahagiaan hidup berumah tangga, baik kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Kebahagiaan di dunia, boleh jadi tidak selalu identik dengan kehidupan yang mewah dengan rumah dan perabotan yang serba lux. Hati yang selalu tenang (muthma’innah), fikiran dan perasaan yang selalu nyaman adalah bentuk kebahagiaan yang tidak bisa digantikan dengan materi/kemewahan.
Kebahagiaan hati akan semakin lengkap jika memang bisa kita sempurnakan dengan 4 (empat) hal seperti dinyatakan oleh Rasulullah, yaitu : (1) Isteri yang sholihah, (2) Rumah yang luas, (3) Kendaraan yang nyaman, dan (4) Tetangga yang baik.
Kita bisa saja memanfaatkan fasilitas rumah yang luas dan kendaraan yang nyaman tanpa harus memiliki, misalnya di saat-saat rihlah, safar, silaturahmi, atau menempati rumah dan kendaraan dinas. Paling tidak keterbatasan ekonomi yang ada tidak sampai mengurangi kebahagiaan yang dirasakan, karena pemilik hakiki adalah Allah swt yang telah menyediakan syurga dengan segala kenikmatan yang tak terbatas bagi hamba-hamba-Nya yang bertaqwa, dan menjadikan segala apa yang ada di dunia ini sebagai cobaan.
Kebahagiaan yang lebih penting adalah kebahagiaan hidup di akhirat, dalam wujud dijauhkannya kita dari api neraka dan dimasukkannya kita dalam syurga. Itulah hakikat sukses hidup di dunia ini, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Imran : 185
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan kedalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
Selanjutnya alangkah indahnya ketika Allah kemudian memanggil dan memerintahkan kita bersama-sama isteri/suami dan anak-anak untuk masuk kedalam syurga; sebagaimana dikhabarkan Allah dengan firman-Nya:
“Masuklah kamu ke dalam syurga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan”. (QS, Az-Zukhruf:70)
“Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami hubungkan (pertemukan) anak cucu mereka dengan mereka (di syurga), dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (QS. Ath-Thuur:21).
Inilah keberkahan yang hakiki. [*]